Sabtu, 20 Oktober 2012

PRAKTIKUM ANALGETIK DAN ANTIINFLAMASI


A.  Tujuan Percobaan
1. Untuk melihat dan memahami respon analgetik setelah pemberian analgetika non narkotik
2.  Membandingkan respon analgetik antara paracematol dan asam mefenamat.

B.  Dasar Percobaan
Analgetik adalah obat yang berkhasiat untuk mengurangi atau menghilangkan rasa sakit. Pada umumnya analgetika dikelompokkan ke dalan dua golongan, yaitu analgetik narkotik dan non narkotik. Afek analgesik dari analgetika narkotika sebenarnya diakibatkan oleh terpacunya reseptor spesifik untuk opiat. Dalam keadaan normal (fisiologis) reseptor ini terpacu oleh beberapa neuro transmitter yang berfungsi mengatasi nyeri. Termasuk dalam golongan ini adalah morphin, kodein, dan senyawa sintetik memeperidin (pethidin), amiloridin, metadon, pentazosin.
Analgetika non narkotik sering disebut juga analgetika antiperitika. Umumnya digolongkan pada kelompok salisilat, pirazon dan para aminofenol dan asam organik. Beberapa dari golongan tersebut mempunyai efek antiinflamasi sehingga sering dimasukkan dan dibicarakan dalam obat antiinflamasi non-streoid (NSAIDS).

C.  Alat dan Bahan
o   Sphygmomanometer atau tensimeter
o   Stopwatch
o   Ember
o   Es batu
o   Paracetamol
o   Asam Mefenamat

D.  Prosedur Percobaan
1.      Dua kelompok mahasiswa menunjuk dua orang probandus.
2.   Probandus kelompok I mencelupkan tangannya ke dalam air es, catat waktu sampai rasa sakit konstan karena pengaruh dingin es, setelah itu itung pula denyut jantung dan respirasi per menit berapa kali.
3.    Probandus kelompok II dipasangkan tensimeter, pada lengan kiri, pompa sampai diatas 180 mmHg. Catat pada tekanan tertentu probandus kelompok II merasa sakit konstan, hitung pula denyut jantung dan respirasi per menit berapa kali.
4.      Sesudah percobaan di atas, probandus kelompok I diberi obat Asam Mefenamat dan probandus kelompok II diberi obat Paracetamol untuk diminum.
5.      Setengah jam setelah minum obat, percobaan di atas (2 atau 3) ulangi lagi dan dicatat. Ulangi percobaan setiap 20 menit.
6.      Bandingkan rasa nyeri sebelum dan sesudah minum obat.

E.  Hasil

Hasil pengamatan Kelompok I
No
Waktu
Denyut Jantung/mnt
Respirasi/mnt
Tekanan/dtk
1
0’
86
53
13
2
20’
80
55
35
3
40’
90
39
43
4
60’
84
38
57
5
80’
86
31
44

            Hasil Pengamatan Kelompok II
No
Waktu
Denyut Jantung/mnt
Respirasi/mnt
Tekanan/dtk
1
0’
88
32
41
2
20’
82
28
47
3
40’
84
33
34
4
60’
90
29
50
5
80’
77
30
47

Ket :
v  Kelompok II : Obat Asam Mefenamat
v  Kelompok I   : Obat Paracetamol

F.   Pembahasan
1)      Paracetamol Analgetik
Ø  Farmakologi : Paracetamol adalah derivat p-aminofenol yang mempunyai sifat antipiretik atau analgesik. Sifat antipiretiknya disebabkan oleh gugus aminobenzen dan mekanismenya diduga berdasarkan efek sentral. Sifat analgesik paracetamol dapat menghilangkan rasa nyeri ringan sampai sedang. Sifat antiinflamasinya sangat rendah sehingga tidak digunakan sebagai antirematik. Pada penggunaan oral paracetamol diserap dengan cepat melalui saluran cerna. Kadar maksimum dalam plasma dicapai dalam waktu 30-60 menit. Paracetamol diekskresikan melalui ginjal, kurang dari 5 % tanpa mengalami perubahan. Resorbsinya dari usus cepat dan paraktis tuntas, secara rektal lebih lambat. Prosentase pengikatan pada protein 25 %, plasma t ½  nya 1-4 jam. Antara kadar plasma dan efeknya tidak ada hubungan. Dalam hati, zat ini diuraikan metabolit-metabolit toksis yang diekskresi dengan kemih sebagai konjugat-glukuronida dan sulfat.
Ø  Farmakodinamik : Efek analgetik paracematol serupa dengan salisilat, yaitu menghilangkan atau mengrangi nyeri ringan sampai sedang. Paracetamol menurunkan suhu tubuh dengan mekaniosme yang diduga berdasarkan efek sentral seperti salisilat. efek antiinflamasi paracetamol sangat lemah, oleh karena itu paracetamol tidak digunakan sebagai antireumatik.
Ø  Farmakokinetik : Paracetamol diabsorpsi cepat dan sempurna melalui saluran cerna. Konsentrasi tertinggi dalam plasma dicapai dalam waktu ½ jam dan masa paruh plasma antara 1 sampai 3 jam.

2)      Asam Mefenamat
Ø  Farmakologi : Asam Mefenamat merupakan kelompok antiinflamasi nonsteroid bekerja dengan cara menghambat sintesa prostaglandin dalam jaringan tubuh dengan menghambat enzim siklooksiginase sehingga mempunyai efek analgesik, antiinflamasi dan antipiretik.
Ø  Farmakodinamik : Karena Asam Mefenamat termasuk ke dalam golongan (NSAIDS), maka kerja utama kebanyakan nonsteroidal antiinflammatory drugs (NSAIDS) adalah sebagai penghambat sintesis prostaglandin, sedangkan kerja utama obat antiradang glukortikoid menghambat pembebasan asam arakidonat.
Ø  Farmakokinetik : Asam Mefenamat diabsorbsi dengan cepat dari saluran gastrointestinal apabila diberikan secara oral. Kadar plasma puncak dapat dicapai 1 sampai 2 jam setelah pemberian 2 x 250 mg kapsul asam mefenamat. Pemberian dosis tunggal secara oral sebesar 1000 mg memberikan kadar plasma puncak selama 2 sampai 4 jam dengan t ½ dalam plasma sekitar 2 jam.

G.  Kesimpulan
1.  Sebelum minum obat analgetik (paracetamol), daya tahan sakit probandus terhadap batu es yaitu 13 detik dan setelah minum paracetamol daya tahan sakit semakin meningkat, yaitu 35 detik dan turun kembali secara bertahap. Itu berarti, obat ini memeberikan efek analgetik (menghilangkan rasa sakit) karena setelah dilihat perbandingan antara sebelum dan setelah minum obat.
2. Demikian pula dengan probandus yang diberi rasa sakit menggunakan es batu. Perbedaan antara sebelum dan sesudah minum obat jelas tampak pada hasil tabel pengamatan dan efeknya berangsur-angsur meningkat, kemudian bertahap turun. Pada percobaan ini menggunakan obat Asama Mefenamat.
3. Sedangkan untuk denyut jantung respirasi probandus pada kedua obat ini tidak terlalu tampak perubahan antara waktu yang awal dan seterusnya karena dapat meningkat dan menurun kembali.
4.   Untuk kekuatan daya antipiretik Asam Mefenamat lebih kuat daripada Paracetamol sebab pada obat Paracetamol daya tahannya 13 detik sedangkan Asam Mefenamat 41 detik.

Jumat, 19 Oktober 2012

Proses Pembuatan Simplisia

A. Waktu Panen 

Panen merupakan salah satu rangkaian tahapan dalam proses budidaya tanaman obat. Waktu, cara pemanenan dan penanganan bahan setelah panen merupakan periode kritis yang sangat menen-tukan kualitas dan kuantitas hasil tanaman. Oleh karena itu waktu, cara panen dan penanganan tanaman yang tepat dan benar merupakan faktor penentu kua-litas dan kuantitas. Setiap jenis tanaman memiliki waktu dan cara panen yang berbeda. Tanaman yang dipanen buahnya memiliki waktu dan cara panen yang berbeda dengan tanaman yang dipanen berupa biji, rimpang, daun, kulit dan batang. Begitu juga tanaman yang mengalami stres lingkungan akan memiliki waktu panen yang ber-beda meskipun jenis tanamannya sama. Berikut ini diuraikan saat panen yang tepat untuk beberapa jenis tanaman obat.

Biji. Panen tidak bisa dilakukan secara serentak karena perbedaan waktu pematangan dari buah atau polong yang berbeda. Pemanenan biji di-lakukan pada saat biji telah masak fisiologis. Fase ini ditandai dengan sudah maksimalnya pertumbuhan buah atau polong dan biji yang di dalamnya telah terbentuk dengan sempurna. Kulit buah atau polong mengalami perubahan warna misalnya kulit polong yang semula warna hijau kini berubah menjadi agak kekuningan dan mulai mengering. Pemanenan biji pada tanaman se-musim yang sifatnya determinate dilakukan secara serentak pada suatu luasan tertentu. Pemanenan dilaku-kan setelah 60% kulit polong atau kulit biji sudah mulai mongering. Hal ini berbeda dengan tanaman se-musim indeterminate dan tahunan, yang umumnya dipanen secara ber-kala berdasarkan pemasakan dari biji/polong.

Buah. Buah harus dipanen setelah masak fisiologis dengan cara me-metik. Pemanenan sebelum masak fisiologis akan menghasilkan buah dengan kualitas yang rendah dan kuantitasnya berkurang. Buah yang dipanen pada saat masih muda, seperti buah mengkudu, jeruk nipis, jambu biji dan buah ceplukan akan memiliki rasa yang tidak enak dan aromanya kurang sedap. Begitu pula halnya dengan pemanenan yang terlambat akan menyebabkan pe-nurunan kualitas karena akan terjadi perombakan bahan aktif yang ter-dapat di dalamnya menjadi zat lain. Selain itu tekstur buah menjadi lembek dan buah menjadi lebih cepat busuk.

Daun. Pemanenan daun dilakukan pada saat tanaman telah tumbuh maksimal dan sudah memasuki periode matang fisiologis dan dilakukan dengan memangkas tanaman. Pemangkasan dilakukan dengan menggunakan pisau yang bersih atau gunting stek. Pemanenan yang terlalu cepat menyebabkan hasil produksi yang diperoleh rendah dan kandungan bahan bahan aktifnya juga rendah, seperti tanaman jati belanda dapat dipanen pada umur 1 - 1,5 tahun, jambu biji pada umur 6 - 7 bulan, cincau 3 - 4 bulan dan lidah buaya pada umur 12 - 18 bulan setelah tanam. Demikian juga dengan pe-manenan yang terlambat menyebab-kan daun mengalami penuaan (se-nescence) sehingga mutunya rendah karena bahan aktifnya sudah ter-degradasi. Pada beberapa tanaman pemanenan yang terlambat akan mempersulit proses panen.

Rimpang. Untuk jenis rimpang waktu pe-manenan bervariasi tergantung peng-gunaan. Tetapi pada umumnya pemanenan dilakukan pada saat tanam-an berumur 8 - 10 bulan. Seperti rimpang jahe, untuk kebutuhan eks-por dalam bentuk segar jahe dipanen pada umur 8 - 9 bulan setelah tanam, sedangkan untuk bibit 10 - 12 bulan. Selanjutnya untuk keperluan pem-buatan jahe asinan, jahe awetan dan permen dipanen pada umur 4 - 6 bulan karena pada umur tersebut serat dan pati belum terlalu tinggi. Sebagai bahan obat, rimpang di-panen setelah tua yaitu umur 9 - 12 bulan setelah tanam. Untuk temu-lawak pemanenan rimpang dilaku-kan setelah tanaman berumur 10 - 12 bulan. Temulawak yang dipanen pada umur tersebut menghasilkan kadar minyak atsiri dan kurkumin yang tinggi. Penanaman rimpang dilakukan pada saat awal musim hujan dan dipanen pada pertengahan musim kemarau. Saat panen yang tepat ditandai dengan mulai menge-ringnya bagian tanaman yang berada di atas permukaan tanah (daun dan batang semu), misalnya kunyit, temulawak, jahe, dan kencur.

Bunga. Bunga digunakan dalam industri farmasi dan kosmetik dalam bentuk segar maupun kering. Bunga yang digunakan dalam bentuk segar, pemanenan dilakukan pada saat bunga kuncup atau setelah per-tumbuhannya maksimal. Berbeda dengan bunga yang digunakan dalam bentuk kering, pemanenan dilakukan pada saat bunga sedang mekar. Seperti bunga piretrum, bunga yang dipanen dalam keadaan masih kuncup menghasilkan kadar piretrin yang lebih tinggi dibandingkan dengan bunga yang sudah mekar.


Kayu. Pemanenan kayu dilakukan setelah pada kayu terbentuk senyawa metabolit sekunder secara maksimal. Umur panen tanaman berbeda-beda tergantung jenis tanaman dan ke-cepatan pembentukan metabolit sekundernya. Tanaman secang baru dapat dipanen setelah berumur 4 sampai 5 tahun, karena apabila dipanen terlalu muda kandungan zat aktifnya seperti tanin dan sappan masih relatif sedikit.

Herba. Pada beberapa tanaman semusim, waktu panen yang tepat adalah pada saat pertumbuhan vegetatif tanaman sudah maksimal dan akan memasuki fase generatif atau dengan kata lain pemanenan dilakukan sebelum ta-naman berbunga. Pemanenan yang dilakukan terlalu awal mengakibat-kan produksi tanaman yang kita dapatkan rendah dan kandungan bahan aktifnya juga rendah. Sedang-kan jika pemanenan terlambat akan menghasilkan mutu rendah karena jumlah daun berkurang, dan batang tanaman sudah berkayu. Contohnya tanaman sambiloto sebaiknya di-panen pada umur 3 - 4 bulan, pegagan pada umur 2 - 3 bulan setelah tanam, meniran pada umur kurang lebih 3,5 bulan atau sebelum berbunga dan tanaman ceplukan dipanen setelah umur 1 - 1,5 bulan atau segera setelah timbul kuncup bunga, terbentuk.

B. Cara Panen Bahan Baku Simplisia
Pada waktu panen peralatan dan tempat yang digunakan harus bersih dan bebas dari cemaran dan dalam keadaan kering. Alat yang diguna-kan dipilih dengan tepat untuk mengurangi terbawanya bahan atau tanah yang tidak diperlukan. Seperti rimpang, alat untuk panen dapat menggunakan garpu atau cangkul. Bahan yang rusak atau busuk harus segera dibuang atau dipisahkan. Penempatan dalam wadah (keran-jang, kantong, karung dan lain-lain) tidak boleh terlalu penuh sehingga bahan tidak menumpuk dan tidak rusak. Selanjutnya dalam waktu pengangkutan diusahakan supaya bahan tidak terkena panas yang berlebihan, karena dapat menyebab-kan terjadinya proses fermentasi/ busuk. Bahan juga harus dijaga dari gang-guan hama (hama gudang, tikus dan binatang peliharaan).

C.  Penanganan Pasca Panen
Pasca panen merupakan kelanjutan dari proses panen terhadap tanaman budidaya atau hasil dari penambangan alam yang fungsinya antara lain untuk membuat bahan hasil panen tidak mudah rusak dan memiliki kualitas yang baik serta mudah disimpan untuk diproses selanjutnya. Untuk memulai proses pasca panen perlu diperhatikan cara dan tenggang waktu pengumpulan bahan tanaman yang ideal setelah dilakukan proses panen tanaman tersebut. Selama proses pasca panen sangat penting diperhatikan keber-sihan dari alat-alat dan bahan yang digunakan, juga bagi pelaksananya perlu memperhatikan perlengkapan seperti masker dan sarung tangan. Tujuan dari pasca panen ini untuk menghasilkan simplisia tanaman obat yang bermutu, efek terapinya tinggi sehingga memiliki nilai jual yang tinggi. Secara umum faktor-faktor dalam penanganan pasca panen yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :
  • Penyortiran (Sortir Basah)
Penyortiran basah dilakukan setelah selesai panen dengan tujuan untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahan-bahan asing, bahan yang tua dengan yang muda atau bahan yang ukurannya lebih besar atau lebih kecil. Bahan nabati yang baik memiliki kandungan campuran bahan organik asing tidak lebih dari 2%. Proses penyortiran pertama bertujuan untuk memisahkan bahan yang busuk atau bahan yang muda dan yang tua serta untuk mengurangi jumlah pengotor yang ikut terbawa dalam bahan.
  • Pencucian
Pencucian bertujuan menghilang-kan kotoran-kotoran dan mengurangi mikroba-mikroba yang melekat pada bahan. Pencucian harus segera di-lakukan setelah panen karena dapat mempengaruhi mutu bahan. Pen-cucian menggunakan air bersih seperti air dari mata air, sumur atau PAM. Penggunaan air kotor menye-babkan jumlah mikroba pada bahan tidak akan berkurang bahkan akan bertambah. Pada saat pencucian per-hatikan air cucian dan air bilasan-nya, jika masih terlihat kotor ulangi pencucian/pembilasan sekali atau dua kali lagi. Perlu diperhatikan bahwa pencucian harus dilakukan dalam waktu yang sesingkat mung-kin untuk menghindari larut dan terbuangnya zat yang terkandung dalam bahan. Pencucian bahan dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain :


    • Perendaman bertingkat

Perendamana biasanya dilakukan pada bahan yang tidak banyak mengandung kotoran seperti daun, bunga, buah dll. Proses perendaman dilakukan beberapa kali pada wadah dan air yang berbeda, pada rendaman pertama air cuciannya mengandung kotoran paling banyak. Saat perendaman kotoran-kotoran yang melekat kuat pada bahan dapat dihilangkan langsung dengan tangan. Metoda ini akan menghemat peng-gunaan air, namun sangat mudah melarutkan zat-zat yang terkandung dalam bahan.
    • Penyemprotan
Penyemprotan biasanya dilakukan pada bahan yang kotorannya banyak melekat pada bahan seperti rimpang, akar, umbi dan lain-lain. Proses penyemprotan dilakukan de-ngan menggunakan air yang ber-tekanan tinggi. Untuk lebih me-nyakinkan kebersihan bahan, ko-toran yang melekat kuat pada bahan dapat dihilangkan langsung dengan tangan. Proses ini biasanya meng-gunakan air yang cukup banyak, namun dapat mengurangi resiko hilang/larutnya kandungan dalam bahan.
    • Penyikatan (manual maupun otomatis)
Pencucian dengan menyikat dapat dilakukan terhadap jenis bahan yang keras/tidak lunak dan kotoran-nya melekat sangat kuat. Pencucian ini memakai alat bantu sikat yang di- gunakan bentuknya bisa bermacam-macam, dalam hal ini perlu diper-hatikan kebersihan dari sikat yang digunakan. Penyikatan dilakukan terhadap bahan secara perlahan dan teratur agar tidak merusak bahannya. Pem-bilasan dilakukan pada bahan yang sudah disikat. Metode pencuci-an ini dapat menghasilkan bahan yang lebih bersih dibandingkan de-ngan metode pencucian lainnya, namun meningkatkan resiko kerusa-kan bahan, sehingga merangsang tumbuhnya bakteri atau mikroorganisme.


  • Penirisan / Pengeringan

Setelah pencucian, bahan lang-sung ditiriskan di rak-rak pengering. Khusus untuk bahan rimpang pen-jemuran dilakukan selama 4 - 6 hari. Selesai pengeringan dilakukan kem-bali penyortiran apabila bahan lang-sung digunakan dalam bentuk segar sesuai dengan permintaan.
  • Perajangan
Perajangan pada bahan dilakukan untuk mempermudah proses selanjutnya seperti pengeringan, pengemasan, penyulingan minyak atsiri dan penyimpanan. Perajangan biasanya hanya dilakukan pada bahan yang ukurannya agak besar dan tidak lunak seperti akar, rim-pang, batang, buah dan lain-lain. Ukuran perajangan tergantung dari bahan yang digunakan dan ber-pengaruh terhadap kualitas simplisia yang dihasilkan. Perajangan terlalu tipis dapat mengurangi zat aktif yang terkandung dalam bahan. Sedangkan jika terlalu tebal, maka pengurangan kadar air dalam bahan agak sulit dan memerlukan waktu yang lama dalam penjemuran dan kemungkinan besar bahan mudah ditumbuhi oleh jamur.
  • Pengeringann
Pengeringan adalah suatu cara pengawetan atau pengolahan pada bahan dengan cara mengurangi kadar air, sehingga proses pem-busukan dapat terhambat. Dengan demikian dapat dihasilkan simplisia terstandar, tidak mudah rusak dan tahan disimpan dalam waktu yang lama Dalam proses ini, kadar air dan reaksi-reaksi zat aktif dalam bahan akan berkurang, sehingga suhu dan waktu pengeringan perlu diperhati-kan. Suhu pengeringan tergantung pada jenis bahan yang dikeringkan. Pada umumnya suhu pengeringan adalah antara 40 - 600C dan hasil yang baik dari proses pengeringan adalah simplisia yang mengandung kadar air 10%. Demikian pula de-ngan waktu pengeringan juga ber-variasi, tergantung pada jenis bahan yang dikeringkan seperti rimpang, daun, kayu ataupun bunga. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam pro-ses pengeringan adalah kebersihan (khususnya pengeringan mengguna-kan sinar matahari), kelembaban udara, aliran udara dan tebal bahan (tidak saling menumpuk). Penge-ringan bahan dapat dilakukan secara tradisional dengan menggunakan sinar matahari ataupun secara mo-dern dengan menggunakan alat pe-ngering seperti oven, rak pengering, blower ataupun dengan fresh dryer.
Pengeringan hasil rajangan dari temu-temuan dapat dilakukan de-ngan menggunakan sinar matahari, oven, blower dan fresh dryer pada suhu 30 - 500C. Pengeringan pada suhu terlalu tinggi dapat merusak komponen aktif, sehingga mutunya dapat menurun. Untuk irisan rim-pang jahe dapat dikeringkan meng-gunakan alat pengering energi surya, dimana suhu pengering dalam ruang pengering berkisar antara 36 - 450C dengan tingkat kelembaban 32,8 - 53,3% menghasilkan kadar minyak atsiri lebih tinggi dibandingkan dengan pengeringan matahari lang-sung maupun oven. Untuk irisan temulawak yang dikeringkan dengan sinar matahari langsung, sebelum dikeringkan terlebih dulu irisan rimpang direndam dalam larutan asam sitrat 3% selama 3 jam. Selesai peren-aman irisan dicuci kembali sampai bersih, ditiriskan kemudian dijemur dipanas matahari. Tujuan dari perendaman adalah untuk mencegah terjadinya degradasi kur-kuminoid pada simplisia pada saat penjemuran juga mencegah peng-uapan minyak atsiri yang berlebihan. Dari hasil analisis diperoleh kadar minyak atsirinya 13,18% dan kurkumin1,89%.
Di samping menggunakan sinar matahari langsung, penjemuran juga dapat dilakukan dengan menggunakan blower pada suhu 40 - 500C. Kelebihan dari alat ini adalah waktu penjemuran lebih singkat yaitu sekitar 8 jam, di-bandingkan dengan sinar matahari membutuhkan waktu lebih dari 1 minggu. Pelain kedua jenis pengeri-ng tersebut juga terdapat alat pengering fresh dryer, dimana suhunya hampir sama dengan suhu ruang, tempat tertutup dan lebih higienis. Kelemahan dari alat ter-sebut waktu pengeringan selama 3 hari. Untuk daun atau herba, penge-ringan dapat dilakukan dengan me-nggunakan sinar matahari di dalam tampah yang ditutup dengan kain hitam, menggunakan alat pengering fresh dryer atau cukup dikering-anginkan saja.

Pengeringan dapat menyebabkan perubahan-perubahan hidrolisa enzi-matis, pencokelatan, fermentasi dan oksidasi. Ciri-ciri waktu pengering-an sudah berakhir apabila daun atau-pun temu-temuan sudah dapat di-patahkan dengan mudah. Pada umumnya bahan (simplisia) yang sudah kering memiliki kadar air ± 8 - 10%. Dengan jumlah kadar air tersebut kerusakan bahan dapat ditekan baik dalam pengolahan mau-pun waktu penyimpanan.
  • Penyortiran (Sortir Kering).
Penyortiran dilakukan bertujuan untuk memisahkan benda-benda asing yang terdapat pada simplisia, misalnya akar-akar, pasir, kotoran unggas atau benda asing lainnya. Proses penyortiran merupakan tahap akhir dari pembuatan simplisia kering sebelum dilakukan pengemasan, penyimpanan atau pengolahan lebih lanjut. Setelah penyortiran simplisia ditimbang untuk mengetahui rendemen hasil dari proses pasca panen yang dilakukan.
  • Pengemasan
Pengemasan dapat dilakukan terhadap simplisia yang sudah di-keringkan. Jenis kemasan yang di-gunakan dapat berupa plastik, kertas maupun karung goni. Persyaratan jenis kemasan yaitu dapat menjamin mutu produk yang dikemas, mudah dipakai, tidak mempersulit pena-nganan, dapat melindungi isi pada waktu pengangkutan, tidak beracun dan tidak bereaksi dengan isi dan kalau boleh mempunyai bentuk dan rupa yang menarik.

Berikan label yang jelas pada tiap kemasan tersebut yang isinya menuliskan ; nama bahan, bagian dari tanaman bahan yang digunakan, tanggal pengemasan, nomor/kode produksi, nama/alamat penghasil, berat bersih, metode penyimpanan.
  • Penyimpanan
    • Penyimpanan simplisia dapat di-lakukan di ruang biasa (suhu kamar) ataupun di ruang ber AC. Ruang tempat penyimpanan harus bersih, udaranya cukup kering dan ber-ventilasi. Ventilasi harus cukup baik karena hama menyukai udara yang lembab dan panas. Perlakuan sim-plisia dengan iradiasi sinar gamma dosis 10 kGy dapat menurunkan jumlah patogen yang dapat meng-kontaminasi simplisia tanaman obat (Berlinda dkk, 1998). Dosis ini tidak merubah kadar air dan kadar minyak atsiri simplisia selama penyimpanan 3 - 6 bulan. Jadi sebelum disimpan pokok utama yang harus diperhati-kan adalah cara penanganan yang tepat dan higienes.

Kamis, 18 Oktober 2012

I WISH - ONE DIRECTION




(Na na na na naa)
(Na na na na naa)

He takes yous hand, I die a little
Digenggam tanganmu, aku meradang
I watch your eyes and I’m in little
Kutatap matamu dan aku pun remeh
Why can’t you look at mee like that
Kenapa tak bisa kau menatapku seperti itu

(Na na na na naa)

When you walk by
Saat kau berlalu
I try to say it
Ku coba tuk mengatakannya
But then I freeze
Tapi aku membeku
And never do it
Dan tak jadi mengatakannya

My tounge gets tight
Lidahku jadi kelu
The words can’t trade
Tak ada yang keluar
I hear the beat of my heart getting louder
Ku dengar detak jantungku semakin keras
Whenever I’m near you
Tiap kali aku dekat denganmu

CHORUS
But I see you with him slow dancing
Tapi kulihat dirimu berdansa dengannya
Tearing me apart
Hancurlah hatiku
‘Cause you don’t see
Karena kau tak tahu
Whenever you kiss him
Tiap kali kau menciumnya
I’m breaking
Aku patah hati
Oh, how I wish taht was me
Oh, sungguh aku berharap itu adalah diriku

(Na na na na naa)
(Na na na na naa)

Hee looks at you
Dia menatapmu
The way that I would
Seperti caraku menatapmu
Does all the things, I know that I could
(Dia) lakukan segalanya, yang kutahu mampu lakukan
If only time, could just turn back
Andai waktu bisa diputar kembali
‘Cause I got three little words
Karena ada tiga kata
That I’ve always been dying to tell you
Yang selama ini sangat ingin kukatakan padamu

CHORUS

Feel with my hands on your waist
(Ku) rasakan tanganku dipinggangmu
While we dance in the moonlight
Saat kita berdansa dibawah sinar bulan
I wish it was me
Andai orang itu adalah diriku
That you call in your room
Yang ku ajak ke kamarmu
‘Cause you wanna say goodnight
Karena kau ingin ucapkan selamat malam

Cause I see you with him slow dancing
Karena kulihat dirimu berdansa dengannya
Tearing me apart
Hancur luluhkan hatiku
‘Cause you don’t see
Karena kau tak tahu

But I see you with him slow dancing
Tapi kulihat dirimu berdansa dengannya
Tearing me apart
Hancur luluhkan hatiku
‘Cause you don’t see
Karena kau tak tahu

Whenever you kiss him
Tiap kali kau menciumnya
I’m breaking
Aku patah hati
Oh, how I wish
Oh, sungguh ku berharap
Oh, how I wish
Oh, sungguh ku berharap
Oh, how I wish, that was me
Oh, sungguh ku berharap itu adalah diriku
Oh, how I wish, that was me
Oh, sungguh ku berharap itu adalah diriku

Sabtu, 13 Oktober 2012

Lirik Lagu Taeyeon - I Love You (Athena OST) [Hangul+Romanization+English]






[ HANGUL ]


스쳐가나요우리의 사랑은가슴 아픈 추억인가요..
돌아서네요..그대의 마음은눈물로도 잡을순 없나요

My love 
사랑해요..사랑해요 그대 듣고 있나요
My love 
잊지 말아요지우지 말아요우리의 사랑을..

나의 눈물이 그대 보이나요 하루하루 그리워합니다
가슴 떨리던 그대 입맞춤도 이제는 추억이 됐나봐요

My love 
사랑해요 사랑해요 그대 듣고 있나요
My love 
잊지 말아요 지우지 말아요우리의 사랑을..

매일  그리움 속에 하루를 버티는데 그댄 어딨나요
내가 미안해요 미안해요 그댈 잊지 못해서
My love 
돌아와줘요..떠나지 말아요.. 곁에서 제발
[ ROMANIZATION ]

Seuchyeoganayo…uriui sarangeun… gaseum apeun chueogingayo..
Doraseoneyo..geudaeui maeumeun…nunmullodo jabeulsun eobnayo…

My love saranghaeyo..saranghaeyo keudae deutgo itnayo..
My love itji marayo…jiuji marayo… uriui sarangeul..

Naui nunmuri keudae boinayo haruharu geuriwohamnida…
lyricsalls.blogspot.com
Gaseum tteollideon geudae ibmatmumdo ijeneun chueogi dwaetnabwayo…

My love saranghaeyo saranghaeyo keudae deutgo itnayo
My love itji marayo jiuji marayo…uriui sarangeul..

Maeil nan geurium soge harueul beotineunde keudaen eoditnayo…
Naega mianhaeyo mianhaeyo geudael itji mothaeseo…
My love dorawajwoyo..tteonaji marayo..nae gyeoteseo jebal 
[ ENGLISH ]

Did it pass by…Our love
Is it just a heart-breaking memory..
It’s turning around…Your heart…Can’t I catch it with my tears…
My love I love you, I love you..Are you listening…
My love…Don’t forget…Don’t erase…Our love..
Can you see my tears. I long for you all day
My heart beat when we kissed but now it’s all a memory
My love I love you, I love you…Are you listening
My love Don’t forget Don’t erase… our love..
Everyday I long for you. That’s how my day goes by. Where are you…
I’m sorry I’m sorry that I can’t forget you…
My love come back to me.. Don’t leave my side, please…