Sabtu, 20 Oktober 2012

PRAKTIKUM ANALGETIK DAN ANTIINFLAMASI


A.  Tujuan Percobaan
1. Untuk melihat dan memahami respon analgetik setelah pemberian analgetika non narkotik
2.  Membandingkan respon analgetik antara paracematol dan asam mefenamat.

B.  Dasar Percobaan
Analgetik adalah obat yang berkhasiat untuk mengurangi atau menghilangkan rasa sakit. Pada umumnya analgetika dikelompokkan ke dalan dua golongan, yaitu analgetik narkotik dan non narkotik. Afek analgesik dari analgetika narkotika sebenarnya diakibatkan oleh terpacunya reseptor spesifik untuk opiat. Dalam keadaan normal (fisiologis) reseptor ini terpacu oleh beberapa neuro transmitter yang berfungsi mengatasi nyeri. Termasuk dalam golongan ini adalah morphin, kodein, dan senyawa sintetik memeperidin (pethidin), amiloridin, metadon, pentazosin.
Analgetika non narkotik sering disebut juga analgetika antiperitika. Umumnya digolongkan pada kelompok salisilat, pirazon dan para aminofenol dan asam organik. Beberapa dari golongan tersebut mempunyai efek antiinflamasi sehingga sering dimasukkan dan dibicarakan dalam obat antiinflamasi non-streoid (NSAIDS).

C.  Alat dan Bahan
o   Sphygmomanometer atau tensimeter
o   Stopwatch
o   Ember
o   Es batu
o   Paracetamol
o   Asam Mefenamat

D.  Prosedur Percobaan
1.      Dua kelompok mahasiswa menunjuk dua orang probandus.
2.   Probandus kelompok I mencelupkan tangannya ke dalam air es, catat waktu sampai rasa sakit konstan karena pengaruh dingin es, setelah itu itung pula denyut jantung dan respirasi per menit berapa kali.
3.    Probandus kelompok II dipasangkan tensimeter, pada lengan kiri, pompa sampai diatas 180 mmHg. Catat pada tekanan tertentu probandus kelompok II merasa sakit konstan, hitung pula denyut jantung dan respirasi per menit berapa kali.
4.      Sesudah percobaan di atas, probandus kelompok I diberi obat Asam Mefenamat dan probandus kelompok II diberi obat Paracetamol untuk diminum.
5.      Setengah jam setelah minum obat, percobaan di atas (2 atau 3) ulangi lagi dan dicatat. Ulangi percobaan setiap 20 menit.
6.      Bandingkan rasa nyeri sebelum dan sesudah minum obat.

E.  Hasil

Hasil pengamatan Kelompok I
No
Waktu
Denyut Jantung/mnt
Respirasi/mnt
Tekanan/dtk
1
0’
86
53
13
2
20’
80
55
35
3
40’
90
39
43
4
60’
84
38
57
5
80’
86
31
44

            Hasil Pengamatan Kelompok II
No
Waktu
Denyut Jantung/mnt
Respirasi/mnt
Tekanan/dtk
1
0’
88
32
41
2
20’
82
28
47
3
40’
84
33
34
4
60’
90
29
50
5
80’
77
30
47

Ket :
v  Kelompok II : Obat Asam Mefenamat
v  Kelompok I   : Obat Paracetamol

F.   Pembahasan
1)      Paracetamol Analgetik
Ø  Farmakologi : Paracetamol adalah derivat p-aminofenol yang mempunyai sifat antipiretik atau analgesik. Sifat antipiretiknya disebabkan oleh gugus aminobenzen dan mekanismenya diduga berdasarkan efek sentral. Sifat analgesik paracetamol dapat menghilangkan rasa nyeri ringan sampai sedang. Sifat antiinflamasinya sangat rendah sehingga tidak digunakan sebagai antirematik. Pada penggunaan oral paracetamol diserap dengan cepat melalui saluran cerna. Kadar maksimum dalam plasma dicapai dalam waktu 30-60 menit. Paracetamol diekskresikan melalui ginjal, kurang dari 5 % tanpa mengalami perubahan. Resorbsinya dari usus cepat dan paraktis tuntas, secara rektal lebih lambat. Prosentase pengikatan pada protein 25 %, plasma t ½  nya 1-4 jam. Antara kadar plasma dan efeknya tidak ada hubungan. Dalam hati, zat ini diuraikan metabolit-metabolit toksis yang diekskresi dengan kemih sebagai konjugat-glukuronida dan sulfat.
Ø  Farmakodinamik : Efek analgetik paracematol serupa dengan salisilat, yaitu menghilangkan atau mengrangi nyeri ringan sampai sedang. Paracetamol menurunkan suhu tubuh dengan mekaniosme yang diduga berdasarkan efek sentral seperti salisilat. efek antiinflamasi paracetamol sangat lemah, oleh karena itu paracetamol tidak digunakan sebagai antireumatik.
Ø  Farmakokinetik : Paracetamol diabsorpsi cepat dan sempurna melalui saluran cerna. Konsentrasi tertinggi dalam plasma dicapai dalam waktu ½ jam dan masa paruh plasma antara 1 sampai 3 jam.

2)      Asam Mefenamat
Ø  Farmakologi : Asam Mefenamat merupakan kelompok antiinflamasi nonsteroid bekerja dengan cara menghambat sintesa prostaglandin dalam jaringan tubuh dengan menghambat enzim siklooksiginase sehingga mempunyai efek analgesik, antiinflamasi dan antipiretik.
Ø  Farmakodinamik : Karena Asam Mefenamat termasuk ke dalam golongan (NSAIDS), maka kerja utama kebanyakan nonsteroidal antiinflammatory drugs (NSAIDS) adalah sebagai penghambat sintesis prostaglandin, sedangkan kerja utama obat antiradang glukortikoid menghambat pembebasan asam arakidonat.
Ø  Farmakokinetik : Asam Mefenamat diabsorbsi dengan cepat dari saluran gastrointestinal apabila diberikan secara oral. Kadar plasma puncak dapat dicapai 1 sampai 2 jam setelah pemberian 2 x 250 mg kapsul asam mefenamat. Pemberian dosis tunggal secara oral sebesar 1000 mg memberikan kadar plasma puncak selama 2 sampai 4 jam dengan t ½ dalam plasma sekitar 2 jam.

G.  Kesimpulan
1.  Sebelum minum obat analgetik (paracetamol), daya tahan sakit probandus terhadap batu es yaitu 13 detik dan setelah minum paracetamol daya tahan sakit semakin meningkat, yaitu 35 detik dan turun kembali secara bertahap. Itu berarti, obat ini memeberikan efek analgetik (menghilangkan rasa sakit) karena setelah dilihat perbandingan antara sebelum dan setelah minum obat.
2. Demikian pula dengan probandus yang diberi rasa sakit menggunakan es batu. Perbedaan antara sebelum dan sesudah minum obat jelas tampak pada hasil tabel pengamatan dan efeknya berangsur-angsur meningkat, kemudian bertahap turun. Pada percobaan ini menggunakan obat Asama Mefenamat.
3. Sedangkan untuk denyut jantung respirasi probandus pada kedua obat ini tidak terlalu tampak perubahan antara waktu yang awal dan seterusnya karena dapat meningkat dan menurun kembali.
4.   Untuk kekuatan daya antipiretik Asam Mefenamat lebih kuat daripada Paracetamol sebab pada obat Paracetamol daya tahannya 13 detik sedangkan Asam Mefenamat 41 detik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar